Masa Kebesaran dan Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara

Diposting pada

Sumber Sejarah Tarumanegara

Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui melalui sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan beliau memerintah sampai tahun 382 M.


Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara. Sedangkan sumber-sumber dari luar negeri yang berasal dari berita Tiongkok antara lain:

Artikel Lainnya : Masa Kebesaran dan Keruntuhan Majapahit


  1. Berita Fa-Hsien, tahun 414 M dalam bukunya yang berjudul Fa-Kao-Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan sebagian masih animisme.
  2. Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To- lo-mo yang terletak di sebelah selatan.
  3. Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusaan dari To-lo-mo.

Berdasarkan tiga berita di atas para ahli menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya sama dengan Tarumanegara. Maka berdasarkan sumber-sumber yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat diketahui beberapa aspek kehidupan tentang kerajaan Tarumanegara.


Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasast-prasati tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, meliputi hampir seluruh Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.

Artikel Lainnya : Masa Kebesaran dan Keruntuhan Kerajaan Kutai


Letak Dan Wilayah Kekuasaan Kerajaan Tarumanegara

Dari sumber – sumber di atas dapat di simpulkan bahwa Tarumanegara terletak di jawa Barat. Pusatnya belum dapat di pastikan, namun para ahli menduga kali Chandabagha adalah kali Bekasi, kira – kira anatar sungai Citarum dan sungai Cisadane. Adapun wilayah kekuasaan kerajaan Tarumanegara meliputi daerah Banten, Jakarta, sampai perbatasan Cirebon.

Letak Dan Wilayah Kekuasaan Kerajaan Tarumanegara
Letak Dan Wilayah Kekuasaan Kerajaan Tarumanegara

Berdasarkan isi Prasasti Muara Cianten, letak ibukota Kerajaan Tarumanegara berada di Sundapura atau daerah yang saat ini kita kenal dengan nama kota Bekasi. Kota yang terkenal dengan sentra industri dan tempat berkumpulnya kaum urban yang berasal dari beberapa daerah di wilayah Indonesia.


Satu lagi sumber sejarah yang dapat mengungkap letak kerajaan Tarumanegara adalah Naskah Wangsakerta. Di dalam naskah ini dijelaskan bahwa Punawarnam membangun kota baru bernama Sundapura pada tahun 397 masehi, di mana nama “Sunda” pertama kali digunakan pada saat itu.

Artikel Lainnya : Raja dan Peniggalan Sejarah Kerajaan Kutai


Sejarah Berdirinya Kerajaan Tarumanegara

Berdirinya Kerajaan Tarumanegara dimulai ketika Jayasingawarman melarikan diri dari serangan yang berlangsung di wilayah Salaknegara. Ia berhasil meloloskan diri, kemudian ditempat pelariannya pada tahun 358 Masehi Jayasingawarman mendirikan kerajaan baru di tepi sungai Citarum, kemudian diberi nama Tarumanegara.


Nama Tarumanegara diambil dari nama tanaman yakni tarum (tanaman pewarna), tanaman ini banyak tumbuh di sekitar sungai Citarum. Kemudian tanaman pewarna ini menjadi komoditas ekspor dan sumber pemasukan dari Kerajaan tarumanegara.

Terdapat beberapa peninggalan kerajaan Tarumanegara yang berhasil ditemukan, salah satunya prasasti Tugu seperti gambar diatas. Namun sangat di sayangkan, dari peninggalan prasasti yang ditemukan tidak menyebutkan angka dan tahun berdirinya kerajaan tersebut.


Para ahli sejarah Indonesia melakukan berbagai banyak cara untuk mengetahui tentang berdirinya kerajaan Tarumanegara, salah satu usaha yang dilakukan yakni mereka pergi ke Tiongkok untuk mempelajari naskah-naskah sejarah yang ada disana mengenai hubungan dengan kerajaan di Indonesia di masa lampau.

Artikel Lainnya : Sebab Awal Terjadinya Perang Padri


Kebesaran Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara yang mengalami masa pemerintahan kerajaan sebanyak 12 kali telah mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintatahan Raja Purnawarman (395-434 M). Purnawarman merupakan Raja ketiga yang berkuasa setelah Dharmayawarman (382-395 M).


Pada masa Raja Purnawarman, Kerajaan Tarumanegara memperluas wilayahnya dengan menakhlukkan beberapa kerajaan disekitarnya. Kejayaan Raja Purnawarman juga tertulis pada prasati Ciaruteun yang berisi, “Ini (bekas) dua kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu ialah kaki Yang Mulia Sang Purnawarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.

Artikel Lainnya : Kronologi Perang Diponegoro


Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

Runtuhnya kerajaan Tarumanegara akibat adanya pengalihan kekuasaan, yakni dari Raja ke-12 Linggawarman kepada menantunya, Tarusbawa.


Pada pemerintahan Tarusbawa, pusat Kerajaan Tarumanegara dialihkan ke kerajaannya sendiri, yakni Kerajaan Sunda (bawahan Tarumanegara) yang pada akhirnya Kerajaan Tarumanegara diganti dengan nama Kerajaan Sunda.


Demikian tentang Sejarah Kerajaan Tarumanegara yang meliputi berdirinya kerajaan, masa kejayaan dan keruntuhan,  serta raja yang memerintah Kerajaan Tarumanegara.

Artikel Lainnya : Stratifikasi dan Diferensiasi Sosial


Bukti Sejarah Kerajaan Tarumanagara

Kerajaan Tarumanagara banyak meninggalkan bukti sejarah, diantaranya ditemukannya 7 buah prasati yaitu:

  1. Prasasti Ciareteun yang ditemukan di Ciampea, Bogor. Pada prasasti tersebut terdapat ukiran laba-laba dan tapak kaki serta puisi beraksara Palawa dan berbahasa Sanskerta. Puisi tersebut berbuyi “Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.”

  2. Prasasti Pasri Koleangkak yang ditemukan di perkebunan Jambu. Parsasti ini juga sering disebut sebagai Prasasti Jambu.

    Prasasti Jambu berisi “Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.”


  3. Prasasti Kebonkopi yang ditemukan di kampung Muara Hilir, Cibungbulang. Isi prasasti Kebon Kopi : yakni adanya dua kaki gajah yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawati (gajah kendaran Dewa Wisnu).

    Sedangkan Prasasti Jambu berisi tentang kegagahan raja Purnawarman. Bunyi prasasti itu antara lain :”gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya, yang termasyhur Sri Purnawarman, yang memerintah di taruma dan yang baju zirahnya tak dapat ditembus oleh musuh …”


  4. Prasasti Tugu yang ditemukan di dareah Tugu, Jakarta.

  5. Prasasti Pasir Awi yang ditemukan di daerah Pasir Awi, Bogor.

  6. Prasasti Muara Cianten yang juga ditemukan di Bogor.

  7. Prasasti Cidanghiang atau Lebak yang ditemukan di kampung Lebak, pinggir Sungai Cidanghiang, Pandeglang-Banten. Prasasti Didanghiang berisi “Inilah tanda keperwiraan, keagungan dan keberanian yang sesungguh-sungguhnya dari raja dunia, yang mulia Purnawarman, yang menjadi panji sekalian raja”.

Selain dari prasasti, terdapat juga suber-sumber lain yang berasal dari Cina, diantarnya:

  • Berita dari Fa-Hien, seorang musafir Cina (pendeta Budha) yang terdampar di Yepoti (Yawadhipa/Jawa) tepatnya Tolomo (Taruma) pada tahun 414. Dalam catatannya di sebutkan rakyat Tolomo sedikit sekali memeluk Budha yang banyak di jumpainya adalah Brahmana dan Animisme.

  • Berita dari Dinasti Soui yang menyatakan bahwa pada tahun 528 dan 535 datang utusan dari negeri Tolomo (Taruma) yang terletak disebelah selatan.

  • Berita dari Dinasti Tang Muda yang menyebutkan tahun 666 dan tahun 669 M datang utusan dari Tolomo.

Artikel Lainnya : Kerjasama Ekonomi Internasional


Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Kebudayaan

Kehidupan perekonomian masyarakat Tarumanegara adalah pertanian dan peternakan. Hal ini dapat diketahui dari isi Prasasti Tugu yakni tentang pembangunan atau penggalian saluran Gomati yang panjangnya 6112 tombak (12 km) selesai dikerjakan dalam waktu 21 hari.


Masyarakat Kerajaan Tarumanagara juga berprofesi sebagai pedagang mengingat letaknya yang strategis berada di dekat selat sunda.


Pembangunan/penggalian itu mempunyai arti ekonomis bagi rakyat, karena dapat digunakan sebagai sarana pengairan dan pencegahan banjir. Selain penggalian saluran Gomati dalam prasasti Tugu juga disebutkan penggalian saluran Candrabhaga. Dengan demikian rakyat akan hidup makmur, aman, dan sejahtera.


Dari segi kebudayaan sendiri, Kerajaan Tarumanagara bisa dikatakan kebudayaan mereka sudah tinggi. Terbukti dengan penggalian sungai untuk mencegah banjir dan sebagai saluran irigasi untuk kepentingan pertanian.


Terlihat pula dari teknik dan cara penulisan huruf-huruf pada prasasti yang ditemukan, menjadi bukti kebudayaan masyarakat pada saat itu tergolong sudah maju

Demikian materi dari kami tentang Masa Kebesaran & Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara secara lengkap dan jelas, jangan lupa share ya sobat Murid.Co.Id