Kronologi Perang Diponegoro

Diposting pada

Perang Diponegoro

Perang diponegoro adalah perang yang berlangsung antara tahun 1825-1830 di daerah jawa tengah dan sebagian jawa timur. Dalam perang terjadi antara Belanda penduduk pribumi yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.

Artikel Lainnya : Sebab Awal Terjadinya Perang Padri


Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro (1785-1855) adalah putra Sultan Hamengkubuwono III dari selir Raden Ayu Mengkarawati-putri Bupati Pacitan. Semenjak kecil, diasuh oleh neneknya, Ratu Ageng di Tegalrejo. Sebuah tempat tinggal yang terpencil yang letaknya beberapa kilometer dari istana Yogyakarta.


Disana dia memasuki lingkungan-lingkungan pesantren dan tidak mau menghadap istana yang tidak disukainya karena banyak persengkongkolan, kemerosotan akhlak, pelanggaran susila, dan pengaruh barat yang bersifat merusak. (Ricklefs,1999:177-).


Sekitar tahun 1805 pangeran diponegoro mengalami sebuah kejadian spiritual ,dia bermimpi bahwa dia adalah calon raja yang mempunyai tugas bahwa dia harus memasuki zaman kehancuran yang harus mensucikanya. Setelah 20 tahun menantikan wkatu yang baik,sementara situasi di jawa bertambah buruk . Pada tahun 1820 mulai terjadi pemberontakan –pemberontakan kecil (Ricklefs,1999:177).

Artikel Lainnya : Masa Kebesaran dan Keruntuhan Majapahit


Kronologi Perang Diponegoro

Diponegoro telah mempersiapkan markas komandonya di Desa Selarong. Karena Selarong merupakan desa yang dianggap stategis karena sulit dijangkau oleh lawan. Pada tanggal 28 Juli 1825 Diponegoro berkumpul dengan para bangsawan yang terdiri dari Pangeran Mangkubumi, Pangeran Adinegoro, pangeran Panular, Adiwinoto, Suryodipuro, Blitar, Kiai Mojo, Pangeran Ronggo, Ngabehi Mangun Harjo, dan Pangeran Surenglogo.

Kronologi Perang Diponegoro
Kronologi Perang Diponegoro

Diponegoro memerintahkan Joyomenggolo, Bahuyuda, dan Hanggowikromo agar dapat memobilisasi masyarakat yang ada di desa selarong untuk siap dalam berperang. Rencana awal Diponegoro ingin menguasai daerah Yogyakarta terlebih dahulu. Diponegoro telah mempersiapkan langkah dan strategi yang matang dalam melakukan perangnya.Strategi yang disusun adalah sebagai berikut:


  1. Melakukan penyerangan kepada keraton dan kemudian mencegah kedatangan pasukan yang berasal dari luar Yogyakarta.
  2. Mengirimkan surat melalui Caraka, pada pemimpin pasukan, dan para demang yang ada di daerah Kesultanan dan Kesunanan. Surat-surat yang akan dikirimkan nantinya akan berisi bahwa agar memerangi orang Belanda dan Cina.
  3. Membuat daftar dari bangsawan yang dianggapnya sebagai lawan dan memberikan perlindungan kepada mereka yang telah membantu.
  4. Melakukan pembagian wilayah perang di kesultanan Yogyakarta dan kemudian mengangkat komandan dan pasukannya.

Dalam perkembangannya, Diponegoro mengubah dan memperbaiki struktur organisasi militernya dengan cara meniru organisasi dari kerajaan Turki Usmani pada abad 16-18. Diponegoro mengadopsi nama-nama aturki dengan menggunakan lafal bahasa Jawa. Pasukan elite yang disebut Boluk menjadi Bulkiyo, Bashibolbek menjadi Borjumuah, dan Turki menjadi Turkiyo.

Artikel Lainnya : Masa Kebesaran dan Keruntuhan Kerajaan Kutai


Pangkat atau pemimpin yang tertinggi adalah Alibasah. Kemudian menggunakan pangkat dulah atau agadulah yang berarti panglima Divisi. Pangkat Seh digunakan oleh para perwira. Pengangkatan pembesar militer yang dilakukan sesuai dengan surat keputusan yang resmi yang disebut dengan Piagem dari Sultan Abdul Kamid Herucokro Kabirul Mu’minin Sayidin Panotogomo, Khalifah Rasulullah Alaihi Wassalam. Tetapi Diponegoro juga tidak mengubah struktur organisasi militer yang ada di Jawa.


Senin, tanggal 2 Agustus 1825 Pangeran Diponegoro melakukan penyerangan ke Yogyakarta dengan kekuatan tiga koloni sejumlah 6000 orang. Koloni pertama yang dipimpin oleh Pangeran Abu Bakar dengan menyerang dari arah timur dengan menyerbu Dalem Pakualaman, merusak jembatan Kali Kode, menghanguskan perkampungan dari orang Cina dan Eropa, dan menghancurkan gerbang-gerbang yang menjadi pungutan.


Koloni kedua, telah berhasil menguasai jalan penghubung antara Magelang-Yogyakarta-Surakarta yang dalam hal ini dipimpin oleh Pangeran Adinegoro. Koloni Ketiga yang dipimpin oleh Pangeran Blitar yang berusaha untuk merebut keraton dan menguasai jalan raya Bantul.


Penyerangan yang dilakukan oleh Diponegoro membuat para tentara dan pemerintah Hindia Belanda menjadi terkejut dan panik. Mereka memutuskan untuk mengungsi ke benteng Vredeburg termasuk Sultan Hamnegkubuwono V yang dikawal secara ketat dalam pengungsiannya. Serangan terhadap Yogyakarta merupakan kesuksesan awal yang diperoleh dari Conspiracy of Silence Diponegoro.


Surat-surat yang telah dikirimkan mendapat respon yang baik dari Tumenggung dan para Demang. Setelah penyerangan yang dilakukan di Yogyakarta, Pangeran Serang dan Pangeran Notoprojo beserta Bupati Gagatan yang dalam kesunanan Surakarta yang melakukan pemberontakan di Pantai Utara Jawa.


Pada tanggal 9 Agustus 1825 di Banyumas, khususnya desa Sembong dilakukan pemberontakan terhadap pos-pos di jalan raya yang dipimpin oleh Raden Ngabei Tersosno. Di Monconegoro dilakukan pemberontakan yang dipimpin oleh Tumenggung Mangkunegoro dan Tumenggung Kartodirjo, beserta Tumenggung Tumenggung alap-alap.

Artikel Lainnya : Raja dan Peniggalan Sejarah Kerajaan Kutai


Pada tanggal 23 Juli 1825 di Pisangan yang dipimpin oleh Mulyosentiko berhasil menyerang pasukan Belanda yang akan bergerak ke Yogyakarta. Pada waktu itu terjadi kepanikan oleh Bupati Danuningrat dengan adanya rumah-rumah yang dibakar, namun ternyata hal tersebut sudah mnejadi rencana perlawan yang dilakukan oleh pengikut Diponegoro.


Ronggo Surodilogo, Bupati Wedana di wilayah Barat Gunung Sumbing telah menerima surat dari Diponegoro dan mangkubumi yang berisi tentang perintah masyrakat untuk berperang melawan kekafiran. Setelah Mulyosentiko berhasil, Diponegoro mengirimkan surat ke Kedu pada tanggal 31 Juli 1825, agar masyarakat Kedu siap untuk berperang. Pada tanggal 10 Oktober 1826 di dalam surat Pangeran Blitar yang diberikan kepada Sultan Sepuh dijelaskan mengenai penyebab-penyebab yang menjadi alasan pemberontakan yang dilakukan oleh Diponegoro.


Dari keberhasilan yang dicapai Pangeran Diponegoro menujukkan adanya persiapan yang dilakukan sebelumnya dalam jangka waktu yang lama. Menurut Tim Penulisan Sejarah Indonesia (2010:237) berpendapat sebagai berikut.


Laporan tentang peristiwa 21 Juli 1825 di Tegalrejo itu diterima oleh Komisaris Jenderal Van Der Capellen pada tanggal 24 Juli 1825. Ia sangat terkejut karena sebelumnya tidak pernah mendapat laporan dari residen tentang keadaan sebenarnya di Yogyakarta.


Raad van Indie dipanggil bersidang dan memutuskan Letnan gubernur Jenderal, Letnan Jemderal H.M. de Kock panglima tertinggi tentara Hindia Timur, diangkat sebagai komisaris untuk kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta dan diberi kekuasaan militer dan sipil untuk menumpas pemberontakan.

Artikel Lainnya : Persaingan Pasar Tidak Sempurna


Sebab – Sebab Umum

  1. Kekuasaan raja Mataram semakin kecil dan kewibawaannya mulai merosot. Bersamnaan dengan itu terjadi pemecahan wilayah menjadi empat kerajaan kecil, yaitu Surakarta, Ngayoyakarta , Mangkunegara dan Paku Alaman

  2. Kaum bangsawan merasa dikurangi penghasilannya, karena daerah-daerah yang dulu dibagi-bagikan kepada para bangsawan, kini diambil oleh pemerintah Belanda.

    Pemerintah Belanda mengeluarkan maklumat yang isinya akan menguasahakan perekonomian sendiri, tanah milik kaum partikelir (swasta) harus dikembalikan kepada pemerintah Belanda.


    Sudah tentu tindakan ini menimbulkan kegelisahan diantara para bangsawan, karena harus mengembalikan uang persekot yang telah diterima.


  3. Rakyat yang mempunyai beban seperti kerja rodi, pajak tanah dan sebagainya merasa tertindas. Begitu pula karena pemungutan beberapa pajak yang di borong oleh orang-orang Tionghoa dengan sifat memeras dan memperberat beban rakyat.

Sebab – Sebab Khusus

Sebab-sebab khusus terjadinya Perang Diponegoro adalah pembuatan jalan yang melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegal Rejo. Patih Danurejo IV (seorang “kaki tangan” Belanda) memerintahkan untuk memasang patok-patok di jalur itu.


Pangeran Diponegoro memerintahkan untuk mencabutnya, namun potok-patok itu dipasang kembali atas perintah Patih Danurejo IV. Keadaan seperti ini berlangsung berkali-kali, sehingga akhirnya patok-patok itu diganti dengan tombak.


Dengan penggantian patok itu menandakan kesiapan Pangeran Diponegoro untuk berperang melawan Belanda. Peperangan tidak dapat dielakan lagi dan pasti akan terjadi. Tetapi Belanda berusaha menghadapi kemelut antara kedua bangsawan tersebut dan mengharapkan tidak terjadi peperangan.


Untuk itu Belanda mengutus Pangeran Mangkubumi (paman dari Pangeran Diponegoro) untuk membujuknya agar mau bertemu dengan residen Belanda di Loji.


Pangeran Diponegoro menolak tawaran itu karena tahu arti semua yang dimaksud oleh Belanda. Ketika pembicaraan antara Pangeran Mangkubumi dengan Pangeran Diponegoro berlangsung, Belanda tiba-tiba telah melakukan serangan.

Artikel Lainnya : Kerjasama Ekonomi Internasional


Dampak Akibat Terjadinya Perang Diponegoro

  • Penghapusan sistem tanah paksa
  • Kas Belanda terkuras karena membiayai perang
  • Kekuasaan Belanda di Jawa semakin berkurang

Artikel Lainnya : Stratifikasi dan Diferensiasi Sosial


Jalanya Perang

Dalam persembunyianya Pangeran Diponegoro menghimpun kekuatan. Ia mendapat banyak dukungan dari beberapa bangsawan Yogyakarta dan Jawa Tengah yang kecewa dengan Sultan maupun Belanda . Lima belas dari dua puluh sembilan pangeran bergabung dengan Diponegoro, demikian pula empat puluh satu dari delapan puluh bupati.


Salah satu bangsawan pengikut Diponegoro adalah Sentot Prawirodirjo seorang panglima muda yang tangguh di medan tempur. Komunitas agama bergabung dengan Diponegoro , yang diantarana adalah Kiai Mojo yang menjadi pimpinan spiritual pemberontakan tersebut. Rakyat pedesaan juga bertempur di pihak Diponegoro dan memebantu pasukan-pasukannya apabila mereka tidak sanggup bertempur lagi.


Awalnya pertempuran dilakukan terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri, dan artileri oleh Belanda. Pihak Diponegoropun menanggapi dan berlangsunglah pertempuran sengit di kedua belah pihak. Medan pertempuran terjadi di puluhan kota dan di desa di seluruh Jawa.


Jalur-jalur logistik juga dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Belanda menyiapkan puluhan kilang mesiu yang dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Mesiu dan peluru terus diproduksi saat peperangan berlangsung. Selain itu Belanda juga mengarahkan mata-mata utuk mencari informasi guna menyusunn setrategi perang.


Selanjutnya Diponegoro beserta pengikutnya mengunakan strategi gerilya, yakni dengan cara berpencar, berpindah tempat lalu menyerang selagi musuh lengah. Setrategi ini sangat merepotkan tentara Belanda. Belum lagi Pangeran Diponegoro mendapat dukungan rakyat.


Awlanya sendiri peperangan banyak terjadi di daerah barat kraton Yogyakarta seperti Kulonprogo, Bagelen, dan Lowano (Perbatasan Purworejo-Magelang). Perlawanan lalu berlanjut kedaerah lain: Gunung kidul, Madiun, Magetan, Kediri, dan sekitar Semarang.

Demikian dari kami Murid.Co.Id yang membahas materi Tentang Perang Diponegoro Secara Lengkap, jangan lupa di share terima kasih