Cara Mengatasi Inflasi

Diposting pada

Pengertian Inflasi

Inflasi merupakan kondisi kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus. Umum berarti kenaikan harga tidak hanya terjadi pada satu jenis barang saja, tapi kenaikan harga itu meliputi kelompok barang yang dikonsumsi oleh masyarakat, terlebih lagi kenaikan itu akan mempengaruhi harga barang lain di pasar. Terus menerus berarti bahwa kenaikan harga terjadi tidak sesaat saja, misalnya kenaikan harga barang menjelang hari raya. Kenaikan harga pada kondisi tertentu tidak menjadi permasalahan kerena harga akan kembali normal.

Secara umum, inflasi merugikan bagi sebagian besar masyarakat. Untuk mengatasi kerugian ini, maka setiap masyarakat dan semua pelaku ekonomi lainnya harus mampu membaca gejala dan trend inflasi yang sudah pernah terjadi sebelumnya, sebagai salah satu cara mengantisipasi supaya tidak terjadi kerugian yang membengkak akibat terjadinya inflasi.

Sebagai contoh, apabila reta-rata inflasi yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya adalah 10% per tahun, maka setiap pengusaha dapat memasukkan perubahan harga itu dalam struktur harga barang yang dihasilkannya. Begitu pula dengan kelompok masyarakat yang berpendapatan tetap dapat menuntut kenaikan gaji atau upah sebesar rata-rata inflasi yang terjadi sehingga pendapatannya secara riil tidak mengalami penurunan.


Ciri – Ciri Inflasi

  1. Harga barang dan jasa naik secara terus menerus
  2. Jumlah yang beredar melebihi kebutuhan
  3. Jumlah barang relatif sedikit
  4. Nilai uang (daya beli uang) turun pencegahan inflasi telah lama menjadi salah satu tujuan utama dari kebijaksanaan ekonomi makro pemerintahan dan bank sentral di negara mana pun.

Tujuan Inflasi

Adapun tujuan dari makalah Inflasi ini adalah:

  • Mengetahui Pengertian Inflasi.
  • Mengetahui Macam-macam Inflasi.
  • Mengetahui Teori-teori Inflasi.
  • Mengetahui Pengaruh Inflasi.
  • Mengetahui Kebijakan Untuk Mengatasi Inflasi.

Jenis – Jenis inflasi

Inflasi yang terjadi di suatu negara tentu jenisnya berbeda-beda. Hal ini tergantung dari penyebabnya. Adapun pembagian inflasi adalah sebagai berikut:

Jenis Jenis Inflasi
Jenis Jenis Inflasi

Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahan

  • Inflasi ringan, yaitu inflasi yang besarnya kurang dari 10% per tahun.
  • Inflasi sedang, yaitu inflasi yang besarnya antara 10% – 30% per tahun.
  • Inflasi berat, yaitu inflasi yang besarnya antara 30% – 100% per tahun.
  • Inflasi sangat berat atau hiperinflasi, yaitu inflasi yang besarnya di atas 100% per tahun.

Inflasi Berdasarkan Penyebab

  • Inflasi Tarikan Permintaan (Demand Pull Inflation)

Yaitu inflasi yang terjadi karena kelebihan permintaan atas barang dan jasa. Kelebihan permintaan yang tidak dapat dipenuhi produsen tersebut tentu akan mendorong kenaikan harga-harga, karena permintaan lebih besar daripada penawaran.


  • Inflasi Dorongan Biaya Produksi (Cost Push Inflation)

Yaitu inflasi yang terjadi karena kenaikan biaya produksi. Biaya produksi yang naik akan mendorong naiknya harga-harga barang dan jasa. Selain itu, kenaikan biaya produksi akan mengakibatkan turunnya jumlah produksi sehingga penawaran menjadi berkurang, jika penawaran berkurang sedangkan permintaan diasumsikan tetap, maka akibatnya harga-harga akan naik.


  • Inflasi Lain – Lain

Yaitu inflasi yang terjadi karena berbagai penyebab selain yang sudah disebutkan di atas. Seperti, Inflasi yang disebabkan karena pencetakan uang baru dan inflasi karena lambatnya produksi barang tertentu.


Inflasi Berdasarkan Asal Terjadinya

  • Inflasi dari Dalam Negeri (Domestic Inflation)

Yaitu inflasi yang hanya disebabkan oleh faktor-faktor penyebab dari dalam negeri. Faktor-faktor penyebab tersebut antara lain, adanya pencetakan uang baru untuk menutup anggaran negara yang defisit karena naiknya permintaan masyarakat dan karena kenaikan biaya produksi di dalam negeri (seperti naiknya upah buruh).


  • Inflasi dari Luar Negeri (Imported Inflation)

Yaitu inflasi yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab dari luar negeri. Inflasi ini timbul karena adanya perdagangan antarnegara. Jika suatu negara mengalami inflasi maka inflasi tersebut dapat menular ke negara-negara lain yang memiliki hubungan dagang dengannya.

Contohnya, jika negara kita mengimpor faktor-faktor produksi (berupa bahan baku dan mesin) serta mengimpor barang-barang jadi (seperti motor, mesin cuci, dan kipas angin) dari Jepang, maka jika di Jepang harga faktor-faktor produksi dan barang jadi tersebut naik (inflasi), otomatis negara kita juga akan mengalami inflasi.

Sebab barang-barang yang kita buat dengan faktorfaktor produksi dari Jepang tentu akan dijual lebih mahal, dan barangbarang jadi dari Jepang pun dijual lebih mahal.


Teori Inflasi

Secara garis besar ada 3 (tiga) kelompok teori mengenai inflasi. Ketiga teori itu adalah sebagai berikut:


Teori Kuantitas

Teori kuantitas adalah teori yang paling tua mengenai inflasi namun teori ini masih sangat berguna untuk menerangkan proses inflasi di zaman modern ini, terutama di negara-negara yang sedang berkembang.


Teori ini menyoroti peranan dalam proses inflasi dari jumlah uang yang beredar dan psikologi masyarakat mengenai kenaikan harga-harga. Inti dari teori ini adalah sebagai berikut:

  • Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang yang beredar (uang kartal dan uang giral).
  • Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan oleh psikologi masyarakat mengenai kenaikan harga-harga dimasa mendatang.

Teori Keynes

Teori Keynes mengenai inflasi didasarkan atas teori makronya, teori ini menyoroti aspek lain dari inflasi. Menurut teori ini, inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya.

Pross infasi menurut pandangan ini, tidak lain adalah proses perebutan bagian rizeki diantara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar dari pada yang bisa disediakan oleh masyarakat tersebut.

Proses perebutan ini akhirnya diterjemahkan menjadi keadaan di mana permintaan masyarakat akan barang-barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia (inflatiory gap). Selama inflationary gap tetap ada, selama itu pula proses inflasi berkelanjutan.


Teori Strukturalis

Teori strukturalis adalah teori mengenai inflasi yang didasarkan atas pengalaman di negara-negara Amerika Latin. Teori ini memberikan tekanan pada ketegaran (inflexibilities) dari struktur perekonomian negara-negara sedang berkembang.

Teori strukturalis adalah teori inflasi jangka panjang. Disebut teori inflasi jangka panjang karena teori ini mencari factor-faktor jangka panjang manakah yang bisa mengakibatkan inflasi? Menurut teori ini, ada 2 ketegaran utama dalam perekonomian negara-negara sedang berkembang yang bisa menimbulkan inflasi.

Keterangan yang pertama berupa “ketidakelastisan” dari penerimaan ekspor, yaitu nilai ekspor yang tumbuh secara lamban dibanding dengan pertumbuhan sektor-sektor lain. Kelambanan ini disebabkan karena :

  • Harga di pasar dunia dari barang-barang ekspor negara tersebut makin tidak menguntungkan dibanding dengan harga barang-barang impor yang harus dibayar.
  • Supply atau produksi barang-barang ekspor yang tidak responsive terhadap kenaikan harga (supply barang-barang ekspor yang tidak elastis).

Keterangan yang kedua berkaitan dengan ketidakelastisan dari supply atau produksi bahan makanan di dalam negeri.

Proses Inflasi yang timbul karena dua ketegaran tersebut dalam praktek jelas tidak berdiri sendiri. Umumnya kedua proses tersebut saling berkaitan dan sering kali memperkuat satu sama lain.


Pengaruh Inflasi

Pengaruh inflasi dapat di bagi beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :


Pengaruh Terhadap Perekonomian

  • Inflasi Menggalakkan Penanaman Modal Spekulatif

Pada masa inflasi terdapat kecenderungan diantara pemilik modal untuk menggunakan uangnya dalam investasi yang bersifat spekulatif. Membeli rumah dan tanah dan menyimpan barang yang berharga akan lebih menguntungkan daripada melakukan investasi yang produktif

  • Tingkat Bunga Meningkat dan Akan Mengurangi Investasi.

Untuk menghindari kemlorosotan nilai modal yang mereka pinjamkan, institusi keuangan akan menaikkan tingkat bunga keatas pinjaman-pinjaman mereka. Makin tinggi tingkat inflasi, makin tinggi pula tingkat bunga yang akan meraka tentukan. Tingkat bunga yang tinggi akan mengurangi kegairahan penanam modal untuk mengembangkan sektor-sektor produktif.

  • Inflasi Menimbulkan Ketidakpastian Keadaan Ekonomi dan Masa Depan.

Inflasi akan bertambah cepat jalannya apabila tidak dikendalikan. Pada akhirnya inflasi akan menimbulkan ketidakpastian dan arah perkembangan ekonomi tidak lagi dapat diramalkan dengan baik. Keadaan ini akan mengurangi kegairahan pengusaha untuk mengembangkan kegiatan ekonomi.

  • Menimbulkan Masalah Neraca Pembayaran

Inflasi menyebabkan harga barang impor lebih murah dari pada barang yang dihasilkan di dalam negeri. Maka pada umumnya inflasi akan menyebabkan impor berkembang lebih cepat, tetapi sebaliknya perkembangan ekspor akan bartambah lambat. Hal ini seterusnya akan menimbulkan kemerosotan nilai mata uang. Dan kecenderungan ini akan memperburuk keadaan neraca pembayaran.


Pengaruh Terhadap Individu dan Masyarakat

  • Memperburuk Distribusi Pendapatan

Dalam masalah inflasi nilai harta tetap seperti tanah, rumah, bangunan pabrik dan pertokoan akan mengalami kenaikan harga yang ada kalanya lebih cepat dari kenaikan inflasi itu sendiri. Keadaan tersebut lebih menguntungkan masyarakat yang berpendapatan tinggi karena bisa menginvestasikan uangnya untuk harta tetap tersebut.

Sebaliknya, masyarakat yang berpendapatan rendah pendapatan riilnya akan merosot sebagai akibat inflasi. Dengan demikian inflasi melebarkan ketidaksamaan distribusi pendapatan.

  • Pendapatan Riil Merosot

Sebagian tenaga kerja disetiap Negara terdiri dari pekerja-pekerja bergaji tetap dalam masa inflasi biasanya kenaikan harga-harga selalu mendahului kenaikan pendapatan. Dengan demikian inflasi cenderung menimbulkan kemerosotan pendapatan riil sebagian besar tenaga kerja. Ini berarti kemakmuran masyarakat merosot

Nilai Riil Tabungan Merosot

Dalam perekonomian biasanya masyarakat menyimpan sebagian kekayaannya dalam bentuk deposit dan tabungan di institusi keuangan. Nilai riil tabungan tersebut akan merosot sebagai akibat inflasi. Juga pemegang uang tunai akan dirugikan karena kemerosotan nilai riilnya.


Dampak Inflasi

Secara umum, inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif, tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung, dan mengadakan investasi.

Jenis, Dampak dan Cara Mengatasi Inflasi
Jenis, Dampak dan Cara Mengatasi Inflasi

Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi) keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu, orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat, para penerima pendapatan tetap, seperti pegawai negeri atau karyawan swasta, serta kaum buruh akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu,

Ada beberapa Dampak inflasi, baik segi postif atau negatif diantaranya sebagai berikut :


Bagi Pemilik Pendapatan Tetap dan Tidak Tetap

Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, di tahun 2003 atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah.

Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.


Bagi Para Penabung

Inflasi menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang tabungan menghasilkan bunga, tetapi jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap menurun. Jika orang tidak menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang karena untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat


Bagi Debitur dan Kreditur

Bagi orang yang meminjam uang kepada bank (debitur), inflasi menguntungkan karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.


Bagi Produsen

Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan Jika pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Jika hal ini terjadi, produsen terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar).

Namun, jika inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen dapat menghentikan produksinya untuk sementara waktu, bahkan jika tidak sanggup mengikuti laju inflasi, dapat gulung tikar (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).


Bagi Perekonomian Nasional

  1. Investasi berkurang.
  2. Mendorong tingkat bunga.
  3. Mendorong penanam modal yang bersifat spekulatif.
  4. Menimbulkan kegagalan pelaksanaan pembangunan.
  5. Menimbulkan ketidakpastian keadaan ekonomi pada masa yang akan datang.
  6. Menyebabkan daya saing produk nasional berkurang.
  7. Menimbulkan defisit neraca pembayaran.
  8. Merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Cara Mengatasi Inflasi

Berikut ada beberapa cara mengatasi inflasi, diantaranya sebagai berikut ini :


Kebijakan Moneter

  • Mengatur jumlah uang yang beredar. Salah satu komponennya adalah uang giral.uang giral dapat terjadi dalam dua cara, yaitu seseorang memasukka uang kas ke bank dalam bentuk giro dan seseorang memperoleh pinjaman dari bank berbentuk giro, yang kedua ini lebih inflatoir. Bank sentral juga dapat mengatur uang giral dengan menaikkan cadangan minimum, sehingga uang beredar lebih kecil. Cara lain yaitu menggunakan discount rate.
  • Memberlakukan politik pasar terbuka (jual beli surat berharga) dengan menjual surat berharga , bank sentral dapat menekan perkembangan jumlah uang yang beredar.

Kebijakan Fiscal

Kebijakan fiscal dengan cara pengurangan pengeluaran pemerintah serta menekan kenaikan pajak yang dapat menekan perkembangan jumlah uang yang beredar.


Kebijakan Berkaitan dengan Output

Kebijakan yang berkaian dengan output dengan menaikkan jumlah output missal dengan cara kebijakan penurunan bea masuk sehingga impor barang meningkat. Bertambahnya barang didalam negeri cenderung menurunkan harga.


Kebijakan Penentuan Harga dan Indexing

Kebijakan penentuan harga dan indexing dengan penentuan ceiling harga, serta mendasarkan pada index harga tertentu untuk gaji/ upah. Klau index harga naik maka gaji juga naik, begitu pula kalau harga turun.


Sanering

Sanering berasal dari bahasa Belanda yang berarti penyehatan , pembersihan reorganisasi. Kebijakan sanering antara lain: penurunan nilai uang, pembekuan sebagian simpanan bank dengan ketentuan bahwa simpanan yang di bekukan akan diganti menjadi simpanan jangka panjang oleh pemerintah.


Devaluasi

Devaluasi adala penurunan nilai mata uang dalam negeri terhadap  mata uang luar negerijika hal tersebut terjadi biasanya pemerintah melakukan intervensi agar nilai mata uang dalam negeri tetap stabil.

Demikian pembahasan meteri tentang Inflasi : Pengertian, Jenis, Teori, Dampak, Cara Mengatasi semoga bermanfaat, jangan lupa di share ya sobat Murid.Co.Id

Artikel Lainnya : Prasasti Kerajaan Tarumanegara

Artikel Lainnya : Macam – Macam Pencemaran Lingkungan

Artikel Lainnya : Faktor yang Mempengaruhi Proses Sosialisasi

Artikel Lainnya : Dampak Positif dan Negatif Globalisasi

Artikel Lainnya : Sosialisasi Pembentukan Kepribadian

Artikel Lainnya : Pembahasan Globalisasi Secara Lengkap

Artikel Lainnya : Jenis Prilaku Menyimpang Beserta Sifat dan Cara Pengendalian

Artikel Lainnya : √  Perbedaan antara Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro Beserta contohnya