Struktur Ekosistem : Pengertian dan Tipe Secara Lengkap

Diposting pada
Struktur Ekosistem Secara Lengkap
Struktur Ekosistem Secara Lengkap

 

Hallo sobat murid.co.id kali ini kami akan membahas tentang struktur ekosistem secara lengkap dan jelas, di antaranya sebagai berikut pengertian ekosistem, sturktur ekosistem beserta penjelasan dan contohnya, untuk lebih jelasnya langsung saja simak atikel kita secara lengakap, semoga bermanfaat, terima kasih

Pengertian dan Definisi Ekosistem

Dalam ekosistem, budaya yang ada selalu berfokus pada hubungan timbal balik dengan lingkungan. Hubungan timbal balik ini membentuk sistem yang kita kenal sebagai sistem atau ekosistem ekologis. Dengan kata lain, ekosistem adalah bagian dari fungsi dasar yang memiliki proses interaksi dengan lingkungannya. Lingkungan yang ditawarkan dapat berupa lingkungan biotik (makhluk hidup) atau abiotik (makhluk hidup). Sebagai suatu sistem selalu ada proses interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya dalam suatu ekosistem, yang dapat terdiri dari aliran energi, rantai makanan, siklus biogeokimia, pengembangan dan kontrol.


Ekosistem juga dapat didefinisikan sebagai unit lingkungan dengan elemen fisik dan iklim (kimia, udara dan tanah) dan bahan kimia (keasaman dan salinitas) yang saling berhubungan. Gatra, yang dapat digunakan sebagai fitur integritas ekosistem, adalah energetik (piala atau tingkat makanan, produsen, konsumen dan pengurangan), daur ulang nutrisi (peran peran cangkir) dan produktivitas (hasil internasional). Ketika Anda melihat komponen biota, jenis-jenis yang dapat hidup dalam suatu ekosistem ditentukan oleh kesamaan spesies lain yang hidup di dalam ekosistem. Selain itu, juga ditentukan oleh jenis total dan faktor fisik dan kimia yang membentuk ekosistem.


Konsep ekosistem yang berbeda pada awalnya diprakarsai oleh para ahli ekologi yang berbeda. Pada 1877 Karl Mobius (Jerman) menggunakan istilah biocenosis. Pada tahun 1887 S.A.Forbes (Amerika) menggunakan istilah mikrokosmos. Di Rusia pada awalnya digunakan lebih dari istilah biocenosis, atau geobiocoenosis. Istilah ekosistem pertama kali diperkenalkan oleh ahli ekologi dari Inggris, A.G. Hansley, pada tahun 1935. Pada akhirnya, istilah ekosistem digunakan dan diterima dalam skala yang lebih besar saat ini.


Struktur Ekosistem

Ketika kita menghilangkan ekosistem, ekosistem darat atau perairan telah ditemukan sebagai dua jenis kehidupan yang merupakan komponen bioetika dari ekosistem tersebut, kedua jenis komponen bioetika adalah (a) autotropik dan (b) heterotropik.

  1. Autotrofik, terdiri dari zat yang dapat memberi makan produk (energi) dari bahan anorganik melalui fotosintesis atau kemosintesis. Organisme ini dapat memenuhi keinginannya sendiri. Organisme ini sering disebut produsen.
  2. heterotrofik, terdiri dari sistem yang memanfaatkan, mengubah atau menghapus bahan organik, dibuat oleh komponen autotropik. Organisme ini termasuk dalam kelompok konsumen, baik konsumen maupun konsumen mikro.

Secara struktural ekosistem mempunyai enam komponen sebagai berikut:

  1. Bahan anorganik yang meliputi C, N, CO2, H2O, dan lainnya. Bahan-bahan ini akan didaur ulang.
  2. Bahan organik yang meliputi karbohidrat, lemak, protein, bahan humus, dan lainnya. Bahan-bahan organik ini adalah penghubung antara komponen biotik dan abiotik.
  3. Kondisi iklim yang meliputi faktor iklim, seperti angin, curah hujan, dan suhu.
  4. Pabrikannya autotrofik, prioritas untuk tanaman hijau berdaun (klorofil). Organisme ini hanya dapat hidup dengan bahan anorganik, karena mereka dapat menghasilkan energi makanan sendiri, misalnya dengan fotosistesis. Selain tanaman klorofil, ada juga bakteri kemosintetik yang dapat menghasilkan energi melalui reaksi kimia. Tetapi peran bakteri kemosintetik tidak begitu besar jika dibandingkan dengan fotosintesis tanaman.
  5. Makrokonsumen adalah organisme heterotrof, terutama hewan-hewan seperti kambing, ular, serangga, dan udang. Organisme ini hidupnya tergantung pada organisme lain, dan hidup dengan memakan materi organik.
  6. Konsumen mikro adalah organisme heterotrof, saprotrofik, dan osmotropik, terutama bakteri dan jamur. Mereka adalah orang-orang yang memecah bahan organik dalam bentuk sampah dan bangkai, membusuk sehingga mereka terurai menjadi unsur-unsur (bahan anorganik). Grup ini juga disebut decoder.

Komponen 1, 2, dan 3, adalah komponen abiotik / nonbiotik, atau komponen tidak hidup, sedangkan komponen 4, 5, 6, merupakan komponen hidup atau komponen biotik.


Secara fungsional ekosistem dapat dipelajari menurut enam proses yang berlangsung di dalamnya, yaitu:

  1. Lintasan atau aliran energi.
  2. Rantai makanan.
  3. Pola keragaman berdasar waktu dan ruang.
  4. Daur ulang (siklus) biogeokimiawi.
  5. Perkembangan dan evolusi.
  6. Pengendalian atau sibernetika.

Konsep ekosistem adalah konsep luas yang merupakan konsep dasar dalam ekologi. Konsep ini menekankan hubungan timbal balik dan hubungan timbal balik antara kehidupan dan lingkungan yang tidak hidup.

Setiap ekosistem di dunia memiliki struktur umum yang sama, yaitu ada enam komponen seperti di atas, dan ada interaksi antara komponen-komponen ini. Jadi baik ekosistem alami (pertanian, perkebunan) dan ekosistem buatan (pertanian, perkebunan) semuanya memiliki kepemilikan.

Proses autotrofik dan heterotrofik adalah umum, dan organisme bertanggung jawab untuk berbagai proses terpisah (tidak sempurna), baik dalam ruang dan waktu. Sebagai contoh, dapat dikatakan bahwa proses autotrofik, yaitu fotosintesis, lebih umum di hutan; sementara proses heterotrofik terjadi lebih sering pada permukaan lantai hutan (ini dipisahkan oleh ruang). Proses autotrofik juga terjadi pada siang hari dan proses heterotrofik dapat terjadi pada siang dan malam hari (dipisahkan oleh waktu).

Keberadaan pemisahan ini juga dapat dilihat pada ekosistem perairan. Dalam ekosistem akuatik, lapisan permukaan yang dapat ditembus oleh sinar matahari adalah lapisan autotrofik. Proses autotrofik dominan di lapisan ini. Lapisan air di bawahnya yang tidak ditembus sinar matahari adalah lapisan heterotrofik. Proses heterotrofik terjadi pada lapisan ini.


Dengan pemisahan ruang dan waktu, jalur energi juga dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Rangkaian penggembalaan, yang mencakup proses melalui konsumsi langsung tanaman hidup atau bagian tanaman hidup, atau organisme hidup lainnya.
  2. Lintasan detritus organik (organic detritus circuit), meliputi akumulasi dan penguraian sampah serta bangkai.

Secara umum, komponen abiotik mengendalikan ekosistem dalam kinerja perannya dalam ekosistem. Bahan anorganik dibutuhkan oleh produsen untuk kehidupan mereka. Bahan-bahan ini juga merupakan komponen tubuh organisasi, serta zat organik. Bahan organik sangat dibutuhkan oleh konsumen (makro dan konsumen) sebagai sumber makanan. Produsen dengan fotosintesis adalah komponen yang menghasilkan energi kimia atau makanan.


Mereka menghasilkan makanan yang juga digunakan oleh konsumen. Kemudian komponen mikrokonsume atau dekoder bertanggung jawab untuk mengirim berbagai elemen kimia kembali ke alam (tanah), sehingga mereka dapat digunakan oleh produsen dan ekosistemnya dapat ditingkatkan. Jika peran setiap komponen tidak dapat bekerja, keberlanjutan ekosistem terancam. Demikian pula, keseimbangan dalam ekosistem akan mudah bergeser jika perannya berjalan terlalu cepat, misalnya stagnan. Tentu saja, masing-masing komponen terkait dalam setiap ekosistem dan cara menggunakan hubungan antara satu komponen dan lainnya.


Tipe Ekosistem

Ketika mengidentifikasi berbagai jenis ekosistem, sifat-sifat komunitas yang paling mencolok biasanya digunakan. Untuk ekosistem darat, sebagian besar digunakan oleh komunitas tumbuhan atau vegetasi karena bentuk vegetasi mencerminkan tampilan interaksi antara tanaman, hewan, dan lingkungannya.

Pada dasarnya di Indonesia ada empat kelompok ekosistem utama, yaitu

  • Ekosistem laut
  • Ekosistem terestrial alami,
  • Ekosistem suksesi
  • Ekosistem buatan

 

Ekosistem Bahari

Ekosistem laut dapat dikelompokkan lagi menjadi ekosistem yang lebih kecil, yaitu: ekosistem laut dalam, pantai berpasir dangkal, terumbu karang, pantai berbatu, dan pantai berlumpur. Di setiap ekosistem di ekosistem laut ada perbedaan dalam komponen penyusunnya, baik biotik maupun abiotik.


Ekosistem Darat Alami

Dalam ekosistem darat alami di Indonesia ada tiga bentuk utama vegetasi, yaitu (1) vegetasi pamah (vegetasi dataran rendah), (2) vegetasi gunung dan (3) vegetasi hujan.

Vegetasi pamah adalah bagian terbesar dari hutan dan mencakup wilayah paling luas di Indonesia, yang terletak di ketinggian 0-1000 m. Vegetasi pamah terdiri dari vegetasi rawa dan vegetasi darat. Tanaman Marsh ada di tempat-tempat yang selalu di bawah air dan sekuens masih membentuk air terbuka untuk hutan campuran. Di Indonesia ada berbagai bentuk vegetasi rawa tergantung pada kedalaman, salinitas dan kualitas air, dan kondisi drainase dan banjir. Beberapa contoh vegetasi pamah adalah hutan bakau, hutan rawa air tawar, hutan riparian, hutan rawa gambut dan komunitas danau.

Vegetasi gunung sangat beragam dan sering menunjukkan pemahaman yang jelas, konsisten dengan vegetasi yang berlaku untuk semua wilayah tropis. Vegetasi gunung dapat digolongkan ke dalam hutan gunung, padang rumput, vegetasi terbuka di lereng berbatu, tanaman dan danau rawa gambut dan vegetasi alpine.

Vegetasi Monsun ditemukan di iklim kering musiman dengan Q> 33,3% dan penguapan melebihi curah hujan yang umumnya kurang dari 1500 mm / tahun. Jumlah hari hujan selama empat bulan terkering berturut-turut kurang dari 20. Musim kemarau singkat sampai musim kemarau panjang terjadi di pertengahan tahun. Beberapa contohnya adalah hutan hujan, sabana dan padang rumput.


Kelompok Ekosistem Suksesi

Ekosistem suksesi adalah ekosistem yang muncul setelah perusakan ekosistem alami yang terjadi karena peristiwa alam atau karena aktivitas manusia atau ketika ekosistem buatan tidak lagi dirawat dan dapat berkembang berdasarkan kondisi alam setempat. Ekosistem ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu (1) ekosistem suksesi primer dan (2) ekosistem suksesi sekunder.


Ekosistem suksesi primer berkembang di substrat baru seperti permukaan tanah yang terbengkalai, tanah longsor atau paparan terhadap pertambangan dan konstruksi jalan, abu atau puing-puing lava yang dipancarkan oleh letusan gunung berapi, gunung bekas galian, endapan pasir pantai dan endapan lumpur di danau dan sungai atau muara sungai.


Ekosistem suksesi sekunder terbentuk setelah ekosistem alami hancur total, tetapi substrat baru tidak terbentuk yang secara spesifik disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti deforestasi total dan pembakaran. Ekosistem ini juga dapat berevolusi dari ekosistem buatan dorman yang berkembang secara alami, seperti yang terjadi dengan perubahan pada tanaman atau sistem rotasi yang meninggalkan tanah subur untuk ditanam setelah dua atau tiga kali panen.


Kelompok ekosistem buatan Selain ekosistem alami, ada ekosistem buatan manusia seperti danau, perkebunan, dan agroekosistem (sawah hujan, sawah irigasi, sawah Surjan, sawah rawa, sawah pasang surut, kebun kebun, kolam, dll. ), Untuk menggambarkan ekosistem buatan akan dijelaskan sehubungan dengan ekosistem kolam dan ekosistem padang rumput.


Contoh Ekosistem

Ekosistem Kolam Kolam merupakan salah satu contoh ekosistem yang sederhana, sehingga mudah dipelajari dan sangat sesuai untuk diperkenalkan kepada pemula. Meskipun sederhana dan mudah dipelajari, kolam merupakan ekosistem yang sempurna, lengkap dengan ke enam komponen serta proses – prosesnya.


Dalam suatu kolam dapat kita amati komponen-komponen sebagai berikut :

Komponen abiotik

Komponen abiotik meliputi materi anorganik dan organik yang terlarut dalam air yaitu CO2 , O2 , Ca, N, garam-garam fosfat, asam amino, materi humus, dan lain-lain. Sebagian kecil unsur hara yang vital terdapat dalam bentuk terlarut, sehingga dapat segera digunakan oleh organisme. Tetapi sebagian besar unsur tersebut terdapat mengendap di dalam sedimen di dasar kolam. Laju pembebasan unsur hara dari bentuk padat ke bentuk terlarut, masuknya cahaya ke dalam kolam, fluktuasi suhu, dan kisaran iklim merupakan proses yang penting, yang mengatur kecepatan fungsi atau metabolisme ekosistem kolam.


Produsen

Produsen di dalam kolam meliputi :

1) Tumbuhan berakar atau mengapung (biasanya hanya pada kolam dangkal atau pada bagian yang dangkal).

2) Fitoplankton (biasanya algae), merupakan produsen utama di perairan. Adanya fitoplankton inilah yang menyebabkan air kolam berwarna kehijauan.


Makro konsumen

 Makro konsumen terdiri dari beberapa jenis hewan, misalnya larva serangga, crustacea (udang-udangan), dan ikan. Konsumen primer memakan langsung tumbuhan hidup, ada dua macam yaitu zooplankton (memakan fitoplankton) dan bentos (hewan yang hidup di dasar perairan). Konsumen sekunder, misalnya serangga dan ikan, memakan konsumen primer. Di samping itu ada konsumen yang memakan detritus (sampah).

  1. Saprotrof atau organisme pengurai (mikro konsumen)

Saprotrof terdiri dari bakteri akuatik, flagelata, dan fungi. Mereka terutama terdapat di permukaan sedimen di dasar kolam.

  1. Ekosistem Padang Rumput

Kalau kolam merupakan contoh ekosistem perairan, maka padang rumput merupakan suatu contoh ekosistem daratan. Salah satu perbedaan yang mencolok antara ekosistem perairan dengan daratan adalah pada produsen.

Di perairan, produsen utamanya adalah fitoplankton yang berukuran mikroskopik. Produsen di perairan adalah tumbuhan air, yang tubuhnya kecil, lemah tanpa jaringan penguat, sehingga biomassanya kecil. Di daratan dijumpai produsen dengan tubuh yang besar, bahkan berupa pohon yang besar dengan jaringan penguat yang kokoh, sehingga biomassanya besar.


Pada ekosistem padang rumput dijumpai komponen-komponen ekosistem sebagai berikut:

Produsen

Pada ekosistem padang rumput dapat dijumpai adanya produsen seperti rumput herba, yang semuanya tumbuhan berakar.

Makro konsumen

Makro konsumen yang ada pada ekosistem padang rumput antara lain serangga, labah-labah, cacing, burung, dan mamalia. Konsumen primer (herbivora) dapat berupa serangga dan mamalia. Konsumen sekunder berupa laba-laba, dan ular. Cacing, artropoda tanah, dan siput darat merupakan pemakan sampah atau sisa-sisa organik.

Mikro konsumen

Mikro konsumen pada ekosistem padang rumput terutama bakteri dan fungi.

Komponen abiotik

Komponen abiotik yang ada pada ekosistem padang rumput, misalnya air, udara, tanah dengan kandungan hara serta materi organik.

Dengan membandingkan kedua ekosistem tersebut (kolam dan padang rumput), jelaslah bahwa meskipun penyusun masing-masing komponen ekosistem berbeda tetapi peranan mereka sebagai komponen ekosistem tetap sama.


Tabel Komponen Biotik

$ : Untuk perairan, termasuk hewan ukuran sekecil ostracoda. Untuk daratan, termasuk hewan ukuran sekecil nematoda kecil dan Acarina tanah.

* : Termasuk burung kecil dan mamalia kecil (rodentia).

** : Termasuk 2-3 ekor sapi per hektar.

@ : Biomassa didasarkan perkiraan 1013 = 1 gram berat kering


Daerah  Aliran Sungai (DAS)

Sebelumnya disepakati bahwa ekologi adalah ilmu yang membahas hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Hubungan timbal balik sangat dekat, sehingga hanya bisa bertahan hidup dan bukannya lingkungannya yang tidak bisa diselesaikan satu sama lain. Merupakan sistem yang disebut ekosistem. Karena itu, tidak ada ekosistem yang merupakan sistem ekologis. Setiap sistem terdiri dari komponen piala yang bekerja bersama dan membentuk satu unit dan setiap sistem memiliki fitur yang berbeda.


Gudang air (DAS) dapat dianggap sebagai ekosistem dengan batas alami. Tempat yang dilewati oleh aliran sungai yang terletak di punggung gunung. Batasan ini mudah dilihat. Semua air di sisi gunung pertama akan mempengaruhi sungai, sedangkan aktivitas di tepi sungai akan mempengaruhi sungai kedua. Kedua aliran sungai akan dipindahkan oleh aktivitas manusia di sekitar mereka. Selain itu, ekosistem cekungan sungai akan berkonsentrasi pada cekungan sungai lain di sekitarnya.


Keberadaan ekosistem buatan manusia dengan batas-batas ekonomi dan regional yang memisahkan ekosistem dari daerah aliran sungai ke daerah yang terfragmentasi. Cekungan ekosistem disetujui oleh batas-batas ekologis dan bukan batas-batas administratif, sehingga pengelolaan harus lengkap. Misalnya pengelolaan daerah tangkapan air Ciliwung, pengelolaan yang tidak selesai dan dikelola oleh teman-teman dengan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh banjir di bagian hilir. Kerusakan yang terjadi di daerah hulu akan berdampak pada daerah hilir.

 

Demikian Pembahasan dari murid.co.id tentang Struktur Ekosistem, Pengertian dan Tipenya secara lengkap, mari simak artikel kami yang lainnya di antaranya sebagai berikut :

Struktur Ekosistem : Pengertian dan Tipe Secara Lengkap
5 (100%) 101 vote[s]

Posting pada IPA