Mobilitas Sosial

Pengertian Mobilitas Sosial

Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack, mengemukakan bahwa, mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.

Dalam dunia modern, banyak orang berupaya melakukan mobilitas sosial. Mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang menjadi lebih bahagia dan memungkinkan mereka melakukan jenis pekerjaan yang peling cocok bagi diri mereka.

Bila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial berbeda. Mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Jenis Konflik Sosial Secara Lengkap  Bila tingkat mobilitas sosial rendah, tentu saja kebanyakan orang akan terkukung dalam status nenek moyang mereka. Mereka hidup dalam kelas sosial tertutup.

Jenis Mobilitas Sosial
Jenis Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Contohnya, masyarakat feodal atau pada masyarakat yang menganut sistem kasta.

Pada masyarakat yang menganut sistem kasta, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah untuk selamanya ia tetap berada pada kasta yang rendah. Manfaat Kerjasama Internasional Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian.

Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi.


Cara untuk Melakukan Mobilitas Sosial

Secara umum, cara orang untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas adalah sebagai berikut :

  1. Perubahan Standar Hidup

Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis, melainkan akan mereflesikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan mempengaruhi peningkatan status. Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi Manager, sehingga tingkat pendapatannya naik.

Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak merubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan.

  1. Perubahan Tempat Tinggal

Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas.

  1. Perubahan Tingkah Laku

Untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, orang berusaha menaikkan status sosialnya dan mempraktekkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang diaspirasikan sebagai kelasnya.

Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga pakaian, ucapan, minat, dan sebagainya. Jenis Lembaga Sosial Dia merasa dituntut untuk mengkaitkan diri dengan kelas yang diinginkannya.

Contoh: agar penampilannya meyakinkan dan dianggap sebagai orang dari golongan lapisan kelas atas, ia selalu mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Jika bertemu dengan kelompoknya, dia berbicara dengan menyelipkan istilah-istilah asing.


Konsep dan Ruang Lingkup Mobilitas

Mobilitas mempunyai arti yang bermacam-macam, pertama, mo­bilitas fisik (mobilitas geografis) yaitu perpindahan tempat tinggal (menetap/sementara) dari suatu tempat ke tempat yang lain. Kedua, mobilitas sosial yaitu suatu gerak perpindahan dari suatu kelas sosial ke kelas sosial lainnya. Strategi Pemasaran Mobilitas sosial ini terdiri dari dua tipe, yaitu mobilitas sosial horisontal dan vertikal.

Mobilitas sosial horisontal diartikan sebagai gerak perpindahan dari suatu status lain tanpa perubahan kedudukan. Jadi dalam mobilitas sosial horisontal ini, tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang. Sedangkan mobilitas sosial vertikat yaitu suatu gerak perpindahan dari suatu status sosial ke status sosial lainnya, yang tidak sederajat.

Mobilitas sosial vertikai ini jika dilihat dari arahnya, maka dapat dirinci atas dua jenis, yaitu gerak perpindahan status sosial yang naik (social dimbing) dan gerak perpindahan status yang menurun (social sinking).

Pengertian mobilitas sosial ini mencakup baik mobilitas kelompok maupun individu. Misalnya keberhasilan keluarga Pak A meru­pakan bukti dari mobilitas individu; sedang arus perpindahan penduduk secara bersama-sama (bedo desa) dari daerah kantong-kantong kemiski­nan di P. Jawa ke daerah yang lebih subur sehingga tingkat kese­jahteraan mereka relatif lebih baik dibanding di daerah asal, merupakan contoh mobilitas kelompok.

Ketiga, Mobilitas psikis, yaitu merupakan aspek-aspek sosial-psikologis sebagai akibat dari perubahan sosial. Datam hal ini adalah mereka yang bersangkutan mengalami perubahan sikap yang disertai tentunya dengan goncangan jiwa.

Konsep mobilitas tersebut dalam prakteknya akan saling berkaitan satu sama lain, dan sulit untuk menentukan mana sebagai akibat dan penyebabnya.

Sebagai contoh untuk terjadinya perubahan status sosial, seseorang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya karena ketiadaan lapangan kerja, atau sebaliknya mobilitas sosial seringkali mengakibatkan adanya mobilitas geografi yang disertai dengan segala kerugian yang menyakitkan, yakni lenyapnya ikatan sosial yang sudah demikian lama terjalin.

Demikian halnya mobilitas geografis akan mempengaruhi terha­dap mobilitas sosial yang dimbing maupun sinking, bahkan sekaligus mempengaruhi mobilitas mental atau psikis dari individu maupun masyarakat.


Jenis Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial berdasarkan tipe secara lengkap


  • Mobilitas Sosial Vertikal

Perpindahan individu atau objek dari suatu kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat.

Dibedakan menjadi 2 :

  • Mobilitas Sosial Naik

mobilitas sosial naik ( social climbing mobility atau upward mobility )

Dua bentuk social climbing :

  • masuk ke dalam kedudukan yang lebih tinggi
  • membentuk kelompok baru dan mendapatkan posisi yang lebih tinggi

contoh : Pak Andi yang berkedudukan sebagai Office Boy (OB) diangakat pangkatnya menjadi ketua HRD di kantor tempat Ia bekerja.

  • Mobilitas Sosial Turun

mobilitas sosial turun ( social sinking mobility atau downward mobility ) Dua bentuk social sinking :

  • trurunya kedudukan
  • turunnya derajat kelompok

contoh :  Bu Rena yang berkedudukan sebagai Dirut (Direktur Utama) di

kantornya tetapi karena Ia depresi maka ia diturunkan menjadi pegawai biasa di kantornya.

  • Mobilitas Sosial Horizontal

Peralihan individu atau kelompok sosial dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat.

Contoh : Pak Dedi seorang penjual mie ayam, suatu ketika Ia memutuskan untuk Berganti profesi menjadi seorang penjual soto. Pekerjaan Pak Dedi berubah anamun status sosialnya tetap pada derajat yang sama.

  • Mobilitas Sosial Lateral

  1. Mobilitas ini disebut pula mobilitas geografis.
  2. Perpindahan orang-orang, baik secara perorangan maupun kelompok, dari satu unit wilayah ke wilayah lain dan secara tidak langsung mengubah status sosial seseorang.
  3. Contoh : transmigrasi,urbanisasi dan migrasi.
  • Mobilitas Struktural

Menurut Bassis, mobilitas ini disebabkan oleh inovasi teknologi, urbanisasi, pertumbuhan ekonomi, peperangan, dan kejadian-kejadian lainnya yang mengubah struktur dan jenis kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Contoh : berubahnya pekerjaan suatu masyarakat dari masyarakat agraris ke masyarakat industri.


  • Mobilitas Sosial Berdasarkan Ruang Lingkup

Berikut ada beberapa mobilitas sosial berdasarkan ruang lingkup

  • Mobilitas Intragenerasi

Mengacu pada mobilitas sosial yang dialami seseorang selama masa hidupnya. Mobilitas intragenerasi merupakan mobilitas vertikal dalam generasi itu sendiri. Dengan kata lain, mobilitas intragenerasi terjadi pada diri seseorang.

Dalam tipe mobilitas intragenerasi terjadi pula mobilitas ke atas dan bawah. Oleh karena itu, mobilitas tipe ini dapat terjadi dalam dua bentuk sebagai berikut.

  • Mobilitas intragenerasi ke atas, misalnya pangkat naik dari golongan IVA ke golongan IVB.
  • Mobilitas intragenerasi ke bawah, misalnya pangkat seorang prajurit yang diturunkan karena ia melaukan tindakan indisiplinier.
  • Mobilitas Antargenerasi

Mobilitas antargenerasi adalah perbedaan status yang dicapai seseorang dari status orang tuanya. Mobilitas antargenerasi merupakan mobilitas vertikal yang tidak hanya melibatkan dari individu, tetapi terjadi dalam dua generasi.

Dalam tipe mobilitas antargenerasi, terjadi pula mobilitas yang naik dan turun sehingga mobilitas antargenerasi dapat terjadi dalam dua bentuk berikut.

  1. Mobiitas antargenersi ke atas, misalnya seorang anak menjadi dokter, sementara ayahnya dahulu hanyalah petani miskin.
  2. Mobilitas antargenerasi kebawah, misalnya seorang anak menjadi karyawan biasa, sementara ayahnya dahulu adalah seorang pengusaha yang memiliki banyak karyawan.

Sifat Dasar Mobilitas Sosial

Dalam dunia modern, banyak negara berupaya untuk meningkatkan mobilitas sosial, dengan asumsi bahwa semakin tinggi tingkat mobilitas sosial akan menjadikan setiap individu dalam masyarakat semakin bahagia dan bergairah. Tentunya asumsi ini didasarkan atas adanya kebebasan yang ada pada setiap individu dari latar belakang sosial manapun dalam menentukan kehidupannya.

Tidak adanya diskriminasi pekerjaan baik atas dasar sex, ras, etnis dan jabatan, akan mendorong setiap individu memilih pekerjaan yang paling sesuai bagi sendirinya.

Bila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial setiap individu berbeda, dan tidak ada diskriminasi pekerjaan, maka mereka akan tetap merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi.

Apabila tingkat mobilitas sosial rendah, maka hal ini akan menyebabkan banyak orang terkungkung dalam status sosial para nenek moyang mereka. Tinggi rendahnya mobilitas sosial individu dalam suatu masyarakat sangat ditentukan oleh terbuka tidaknya kelas sosial yang ada pada masyarakat.

Pada masyarakat yang berkelas sosial terbuka maka masyarakatnya memiliki tingkat mobilitas tinggi, sedang pada masyarakat dengan kelas sosial tertutup, maka masyarakat tersebut memiliki tingkat mobilitas sosial yang rendah.


Bentuk Mobilitas Sosial

  1. Mobilitas Vertikal

Mobilitas vertical adalah pepindahan status sosial yang dialami seseorang atau sekelompok warga pada lapisan sosial yang berbeda.

Mobilitas Vertikal naik memiliki dua bentuk ,yaitu sebagai berikut:

  • Naiknya orang-orang berstatus sosial rendah ke status sosial yang lebih tinggi, dimana status itu telah tersedia. Misalnya:seorang camat diangkat menjadi bupati. Terbentuknya suatu kelompok baru yang lebih tinggi dari pada lapisan sosial yang sudah ada. Syarat Integrasi Sosial Mobilitas Vertikal turun juga mempunyai dua bentuk sebagai berikut.
  1. Turunnya kedudukan seseorang kedudukan lebih rendah ,Misalnya, seseorang prajurit yang dipecat karena melakukan desersi.
  2. Tidak dihargai lagi suatu kedudukan sebagai lapisan sosial atas,misalnya , seorang yang menjabat direktur bank,karena bank yang dipimpinya bermasalah maka ia diturunkan menjadi staf direksi.

Beberapa prinsip umum dalam mobilitas sosial vertical adalah sebagai berikut.

  • Tidak ada suatu pun masyarakat yang mutlak tertutup terhadap mobilitas sosial yang vertical.
  • Seterbuka apapun suatu masyarakat terhadap mobilitas sosial .
  • Setiap masyarakat pasti memiliki tipe mobilitas sosial vertical sendiri.
  • Laju mobilitas sosial disebabkan oleh faktor ekonomi,politik,dan pekerjaan yang berbeda-beda.
  • Mobilitas sosial yang disebabkan oleh faktor ekonomi,politik,dan pekerjaan, tidak menunjukkan adanya kecenderungan yang kontinu tentang bertambah .
  1. Mobilitas Horizontal

Mobilitas Horizontal adalah perpindahan status sosial seseorang atau sekelompok orang dalam lapisan. Ciri utama mobilitas horizontal adalah lapisan sosial yang ditempati tidak mengalami perubahan . Contohnya,tindakan mengevakuasi penduduk yang tertimpa bencana alam ke daerah lain.

  1. Mobilitas Antargenerasi

Mobilitas Antargenerasi adalah perpindahan antara dua generasi atau lebih, Mobilitas Antargenerasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

  • Mobilitas Intergenerasi adalah perpindahan status sosial yang terjadi di antara beberapa generasi.
  • Mobilitas Intragenerasiadalah perpindahan status sosial yang terjadi dalam satu generasi yang sama.

Faktor Penentu Mobilitas Sosial

Faktor penentu mobilitas sosial dibedakan dalam dua hal, pertama faktor struktur, yaitu faktor yang menentukan jumlah refatif dari kedudukan tinggi yang harus diisi dan kemudahan untuk memperolehnya.

Faktor struktur ini meliputi, struktur pekerjaan, ekonomi ganda, dan faktor penunjang dan penghambat mobilitas itu sendiri. Kedua. Kedua, faktor individu, dalam hal ini termasuk di dalamnya adalah perbedaan kemampuan, orientasi sikap terhadap mobilitas, dan faktor kemujuran.

  • Faktor Struktur

 Dalam fakto struktur dapat di bagi menjadi 3, diantaranya sebagai berikut ini r:

  1. Struktur Pekerjaan

Secara kasar aktivitas ekonomi dibedakan dalam dua sektor, yaitu sektor formal dan sektor informal. Kedua sektor tersebut tentunya memiliki karakteristik yang berbeda, di mana sektor fomal memiliki sejumlah kedudukan mulai dari rendah sampai kedudukan yang tinggi sedangkan sektor informal lebih banyak memiliki kedudukan yang rendah dan sedikit berstatus tinggi.

Bentuk Mobilitas Sosial
Bentuk Mobilitas Sosial

Perbedaan aktivitas ekonomi ini jelas akan mempengaruhi tingkat mobilitas masyarakat yang terlibat di dalamnya. Demikian halnya pada masyarakat yang aktivitas ekonominya didominasi oleh sektor pertanian dan penghasilan bahan baku (pertambangan, kehutanan) lebih banyak memiliki status kedudukan rendah, dan sedikit kedudukan yang berstatus tinggi, sehingga tingkat mobilitasnya rendah.

Tingkat mobilitas pada negara-negara maju, mengalami peningkatan  seiring dengan semakin berkembangnya industrialisasi.

  1. Ekonomi Ganda

Dilihat dari sudut ekonomi, suatu masyarakat dapat ditandai atas dasar jiwa sosial, bentuk-bentuk organisasi dan teknik-teknik yang mendukungnya. Sebab Khusus Perang Dunia II Ketiga unsur itu saling berkaitan dan menentukan ciri khas dari masyarakat yang bersangkutan, maksudnya adalah bahwa jiwa sosial, bentuk organisasi dan teknik yang unggul akan menetukan gaya dan wajah masyarakat yang bersangkutan.

Oleh karena itu ketiga unsur ini, dalam kaitan satu dengan yang lainnya dapat disebut sebagai sistem sosial, gaya sosial, atau iklim sosial masyarakat yang bersangkutan.

Di negara-negara berkembang ternyata perkembangan ekonomi menimbulkan beberapa jenis dualism, yaitu kegiatan-kegiatan ekonomi dari keadaan-keadaan ekonomi serta keadaan lainnya dalam suatu sektor tidak mempunyai sifat-sifat seragam, dan sebaliknya dapat dengan tegas dibedakan dalam dua golongan.

Pertama, adalah kegiatan-kegiatan atau keadaan ekonomi yang masih dikuasai oleh unsur-unsur yang bersifat tradisional, dan yang kedua adalah berbagai kegiatan-kegiatan atau keadaan ekonomi yang masih dikuasai oleh unsur-unsur modern.

Dualisme ekonomi itu dapat kita lihat antara sektor pertanian tradisional, yang dicirikan oleh tingkat produktivitas yang rendah dan menyebabkan tingkat pendapatan masyarakat berada pada tingkat yang lazim disebut dengan istilah tingkat pendapatan subsiten.

Sedangkan pada sektor ekonomi modern, dicirikan dengan tipe ekonomi pasar, dimana kegiatan masyarakat dalam memproduksi sebagian besar ditujukan untuk pasar. Adanya dualism ekonomi ini, tentunya akan mempengaruhi terhadap cepat tidaknya mobilitas itu berlangsung dan besar-kecilnya kesempatan untuk melakukan mobilitas.

  1. Penunjang dan Pengambat Mobilitas

Anak-anak yang berasal dari kelas sosial menengah pada umumnya memiliki pengalaman belajar yang lebih menunjang mobilitas naik daripada pengalaman anak-anak kelas sosial rendah.

Para sarjana teori konflik berpandangan bahwa ijazah, tes, rekomendasi, “jaringan hubungan antar teman (merupakan jaringan hubungan antara teman-teman dekat dalam suatu jenis profesi atau dunia usaha.

Mereka saling tukar-menukar informasi dan rekomendasi menyangkut kesempatan kerja, sehingga menyulitkan bagi orang-orang luar” untuk dapat menerobosnya), dan deskriminasi terang-terangan terhadap kelompok ras maupun kelompok etnik minoritas, serta orang-orang dari kelas sosial rendah untuk melakukan mobilitas naik.

Di lain pihak, fakor penghambat tersebut juga menutup kemungkinan terjadinya mobilitas menurun bagi kelompok orang dari kelas sosial atas.

Di samping faktor penghambat, terdapat pula faktor penunjang mobilitas yang bersifat struktural, sebagai misal adanya undang – undang anti deskriminasi, munculnya lembaga – lembaga latihan kerja baik yang dibiayai oleh pemerintah atau LSM – LSM, merupakan faktor penunjang penting untuk terjadinya mobilitas naik bagi banyak orang dari status sosial rendah.


  • Faktor Individu

Dalam Faktor individu dapat dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya sebagai berikut ini :

  1. Perbedaan Kemampuan
  2. Perbedaan Perilaku

Yang dimaksudkan dengan perilaku penunjang mobilitas adalah suatu pandangan atau orientasi sikap individu terhadap mobilitas. Perbedaan orientasi sikap individu terhadap mobilitas dipengaruhi oleh beberapa faktor , yaitu pendidikan, kesenjangan nilai, kebiasaan kerja, pola penundaan kesenangan, kemampuan “cara bermain”, dan pola kesenjangan nilai.

  1. Pendidikan

Pendidikan merupakan tangga mobilitas yang utama. Walaupun kadar penting tidaknya pendidikan pada semua jenjang pekerjaan tidaklah sama. Prasasti Kerajaan Singasari Untuk jabatan-jabatan karir seperti dokter, guru, ahli hukum, dan sebagainya, peran pendidikan sangatlah menunjang.

Tetapi latar belakang pendidikan seseorang mungkin tidak diperlukan untuk karir-karir sebagai olahragawan, seniman penghibur, dan lain-lain. Namun yang pasti peran pendidikan disini lebih menekankan pada upaya untuk mengembangkan kemampuan seseorang untuk menyalurkan dan memanfatkan informasi sebagaimana yang diperlukan.

  1. Kebiasaan Kerja

Kebiasaan kerja seseorang merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan dan masa depan seseorang. Meskipun kerja keraslah tidaklah menjamin terjadinya mobilitas naik, namun tidaknlah banyak orang yang dapat mengalami mobilitas naik tanpa adanya kerja keras.

  1. Pola Penundaan Kesenangan

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian-bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ini merupakan suatu pepatah yang menggambarkan pola penundaan kesenangan.

Sebagai contoh: Peran Indonesia Kerja Sama Ekonomi Internasional orang yang lebih senang menyimpan uangnya untuk ditabung daripada untuk kesenangan jangka pendek; para siswa yang lebih tekun membaca buku dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, daripada bermain atau membuang waktu.

Kunci daripada pola penundaan kesenangan adalah adanya perencanaan untuk masa depan dan adanya keinginan yang kuat untuk merealisasikan rencana tersebut.

  1. Kemampuan “Cara Bermain”

“Cara bermain” dan atau seni “penampilan diri” mempunyai peran penting dalam mobilitas naik. Bagaimana menjadi orang yang sangat disenangi dan dapat diterima oleh lingkungannya; bagaimana menjadi orang yang dapat bekerjasama dengan orang lain.

Ini semua mungkin merupakan faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan penampilan diri secara positif bukanlah berarti meremehkan kemampuan,  namun justru melalui penampilan diri merupakan sarana/media yang dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan kemampuan.

  1. Pola Kesenjangan Nilai

Pola kesenjangan nilai merupakan suatu perilaku dimana seseorang mempercayai segenap nilai yang diakui, tetapi tidak melakukan upaya untuk mencapai sasarannya atau mengakui kesalahan pribadi sebagai penyebab kegagalannya dalam mencapai sasaran.

Orang semacam ini bukanlah hipokrit, tetapi mereka hanya tidak menyadari bahwa pola perilakunya tidak searah dengan tujuannya. Perubahan Sosial dan Kebudayaan Sebagai contoh: hampir semua orang tua menginginkan anak-anaknya mempunyai prestasi yang baik di sekolah, tetapi mereka mengabaikan nasihat-nasihat guru dan tidak menekankan agar anak-anaknya belajar dengan baik di rumah.

  1. Faktor Keberuntungan/Kemujuran

Banyak orang yang benar-benar bekerja keras dan memenuhi semua persyaratan untuk menjadi orang yang berhasil, namun tetap mengalami kegagalan; Manajemen Personalia sebaliknya, keberhasilan kadangkala justru jatuh pada orang lain yang jauh persyaratan.

Faktor keberuntungan/kemujuran ini jelas tidak mungkin dapat diukur dan merupakan alasan umum bagi suatu kegagalan, namun faktor ini tetap tidak dapat dipungkiri sebagai salah satu faktor dapat mobilitas.

Dalam beberapa pembahasan di atas, lebih banyak berkisar tentang determinan (faktor penentu mobilitas naik). Pada dasarnya semua faktor penentu mobilitas naik adalah juga sebagai faktor penentu mobilitas menurun.

Sebagai contoh adalah faktor struktur, pada saat negara Indonesia mengalami krisis ekonomi maka banyak perusahaan mengalami gulung tikar, terjadi stagnasi ekonomi dan penurunan produktivitas, serta penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi, kondisi krisis yang dialami negara kita ini cenderung akan meningkatkan jumlah orang yang harus kehilangan status sosial.

 Adapun faktor-faktor individu seperti pendidikan, kebiasaan kerja, keberuntungan, menentukan siapa yan harus mengalami penurunan status.


Dampak adanya Mobilitas Sosial

Adapun dampak yang ditimbulkan dari mobilitas sosial adalah:

  1. Dampak Positif

Bisa memberikan motivasi bagi masyarakat untuk maju dan berprestasi  agar dapat memperoleh status yang lebih tinggi.

  1. Dampak Negatif

Setiap perubahan (mobilitas) pasti akan memiliki dampak negatif, dan hal itu bisa berupa konflik. Dalam masyarakat banyak ragam konflik yang mungkin terjadi akibat dari terjadinya mobilitas ini, seperti terjadinya konflik antar kelas, antar generasi, antar kelompok dan lain sebagainya.

Sehingga akan berakibat pada menurunnya solidaritas baik kelompok atau antar kelompok.

Demikian materi dari kami tentang Jenis dan Dampak Mobilitas secara lengkap dan jelas, semoga bermanfaat, jangan lupa dishare ya sobat Murid.Co.iD