Tips Merawat Bunga Anthurium dan Jenis

Diposting pada

Budidaya Anthurium Daun

Tanaman hias terus berkembang, nyaris tak pernah surut. Kontes atau lomba tanaman hias sering diselenggarakan di sejumlah kota. Penjual tanaman hias banyak bermunculan, begitu juga jenis yang ditawarkan makin beragam. Dalam florikultura, tanaman hias secara garis besar dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu tanaman taman (landscaped plant) dan tanaman penghias rumah (house plant).


Tanaman penghias rumah dibagi menjadi dua, yaitu tanaman dalam ruangan (indoor plant) dan tanaman di luar ruangan (outdoor plant). Kelompok yang paling banyak diminati adalah tanaman penghias rumah. Setiap tanaman hias memiliki tren yang berbeda-beda waktunya, ada pasang surutnya.


Bahkan terkadang berulang dan tidak jauh dari tanaman hias yang itu-itu juga, seperti aglonema, adenium, anthurium, philodendron, dan euphorbia. Salah satu jenis tanaman hias yang banyak diminati adalah anthurium.


Profil Tanaman Anthurium

Nama anthurium berasal dari bahasa Yunani, yaitu anthos (bunga) dan oura (ekor). Sebutan bunga ekor ini tepat karena bunganya menyerupai ekor tertutup seludang berbentuk jantung. Anthurium termasuk keluarga Araceae. Dalam keluarga ini, anthurium adalah genus dengan jumlah jenis terbanyak sekaligus paling kompleks.

Tips Budidaya Anthurium dan Jenis
Tips Budidaya Anthurium dan Jenis

Diperkirakan anggota marga anthurium mencapai lebih dari 1.000 jenis. Masih banyak jenis yang belum dideskripsikan karena setiap tahun bermunculan spesies baru akibat mutasi dan hibrid hasil persilangan.


Anthurium bersosok gagah, memiliki daun lebar dengan bunga berbentuk unik. Ciri khas tanaman ini, daunnya selalu hijau, mulai dari hijau muda, sampai hijau tua. Bentuk daunnya bervariasi, seperti bentuk jantung, membundar, lonjong, atau lancip. Tekstur daunnya beragam, halus, keriput, berlekuk, bergelombang hingga keriting dengan urat dan tulang daun besar dan menonjol.


Jika dilihat dari habitatnya, anthurium adalah tanaman tropis tulen. Asalnya dari benua Amerika, Asia, dan Afrika. Di Asia sendiri penyebarannya cukup luas, mulai dari Thailand, India, Sri Langka, hingga Indonesia. Di Indonesia, tanaman ini banyak berkembang biak di Pulau Jawa.


Tanaman ini tumbuh sepanjang tahun dengan tempat tumbuh yang bermacam-macam. Dari habitat aslinya di alam, anthurium tumbuh pada serasah-serasah batang yang telah membusuk di bawah rindangnya pepohonan hutan. Beberapa sebagai epifit yang menempel di pepohonan.


Ada juga yang tumbuh di tanah, bahkan sebagian berhabitat di bebatuan. Hutan hujan tropis yang banyak ditemui di nusantara menyebabkan anthurium tidak sulit beradaptasi di Indonesia. Ia dapat ditanam di halaman, teras, maupun di dalam ruangan. Ketahanannya berada dalam ruangan melebihi tanaman hias lain.


Jenis Jenis Tanaman Anthurium

Di antara begitu banyak spesies, pada dasarnya anthurium terbagi dalam dua kategori besar, yaitu anthurium bunga dan anthurium daun.


Anthurium Bunga

Anthurium ini terdiri atas puluhan kultivar yang antara satu dan lainnya dibedakan berdasarkan warna seludang bunganya. Bentuk bunga anthurium umumnya menyerupai jantung hati (seludang) dan sebentuk lilin batangan (tongkol bunga) di tengahnya.


Warna seludang beraneka warna, seperti merah, putih, oranye, dan merah jambu. Anthurium bunga banyak digunakan sebagai bahan baku bunga potong.


Anthurium Daun

Anthurium ini memiliki daun yang indah, lebar, berwarna hijau, dan tebal. Anthurium tampak gagah karena ukuran daunnya besar dengan urat-urat yang menonjol di sepanjang permukaannya. Kegagahan tanaman ini makin sempurna karena dapat tumbuh lebih dari 2 m.


Daun anthurium sangat berbeda antara satu jenis dengan jenis lainnya. Ada anthurium dengan bentuk daun membulat, lonjong seperti hati, dan berbentuk lanset. Permukaannya ada yang licin, kasar, rata, dan bergelombang di bagian tepinya.


Jenis Anthurium Daun

Di Indonesia, anthurium daunlah yang paling banyak digemari oleh konsumen, antara lain, anthurium jemani, anthurium hokeri, anthurium corong, anthurium gelombang cinta, dan anthurium keris.


Anthurium Jemani

Anthurium ini paling populer dan paling banyak diburu. Daunnya tebal, lebar, dan kaku. Sepintas sosok daunnya mirip daun tembakau dengan tangkai pendek. Bentuk daun bulat lonjong dengan ujung runcing. Panjang daun 1-1,5 m dengan posisi setengah tegak. Tekstur daun halus dan lembut.


Urat daun tampak jelas dan kontras. Setiap helaian daun berlekuk-lekuk teratur pada bagian pinggirnya. Daun tua berwarna hijau, sedangkan yang masih muda berwarna kemerahan.


Spesiesnya sangat banyak akibat mutasi dan penyilangan, baik yang disengaja maupun yang tidak. Bentuk daun beragam, ada yang menyerupai centong, piring, kol, sawi, atau daun jati. Ada dua jemani yang dikenal di Indonesia, yaitu yang berpucuk merah dan berpucuk hijau.


Anthurium Hokeri

Jenis ini dikenal dengan sebutan anthurium sarang burung karena susunan daunnya tumbuh seperti sarang burung. Semakin ke atas, daunnya melebar, dan cenderung rebah. Tangkai daun pendek, kaku, tebal, dan berwarna gelap.


Daunnya halus tidak berbulu, berwarna hijau muda mengilap dan tebal. Ketebalan daun bervariasi, mulai dari yang tipis hingga tebal. Pinggiran daun agak bergelombang dengan urat-urat daun tampak menonjol. Lebar daun mencapai 35 cm dengan panjang mencapai 60 cm. Anthurium ini ada yang bertangkai hijau dan bertangkai merah.


Anthurium Corong

Kekhasan anthurium ini adalah bentuk daunnya melekuk ke bawah (cekung) mirip corong. Sudut-sudut di pangkal daunnya lebih dalam. Daunnya berbentuk jantung hati, tetapi tidak begitu tegas karena sedikit bergelombang.


Pada pangkal daun terdapat tulang daun yang keras dan bercabang tiga. Bentuk daunnya mengikuti bentuk tulang. Tangkai daun ada yang pendek dan ada yang panjang.


Urat daun seolah-olah menyebar dari tengah-tengah daun. Pinggir hingga ujung daun berwarna cokelat. Jenis yang lebih unik adalah anthuriun corong bibir merah yang tepi daunnya berwarna merah.


Anthurium Gelombang Cinta

Anthurium wave of love (gelombang cinta) dikenal juga dengan nama Anthurium plowmanii. Daunnya tebal, kaku, kekar, lonjong panjang, berujung runcing, dan tepinya bergelombang. Gelombang yang indah di tepi daun inilah yang menjadi ciri utamanya.


Permukaan daun berwarna hijau mengilap dengan urat daun tampak jelas. Ukuran daun ketika masih muda 10-30 cm, sedangkan yang sudah dewasa bisa mencapai 1 m. Anthurium ini paling terkenal di Indonesia, bahkan termasuk jenis tertua yang jadi incaran hobiis.


Anthurium Keris

Daun anthuriun ini berlekuk-lekuk secara teratur, mulai dari pangkal hingga ujung daun mirip keris. Ukuran daun bervariasi, mulai dari sempit hingga lebar dengan posisi tegak ke atas. Daunnya tebal dengan panjang bisa mencapai 2,5 m.


Di pasaran terdapat dua kualitas atau kelas yang sering dikenal dengan istilah kw (kualitas) 1 dan 2. Kelas atau kw 1 memiliki ciri daun lebih tipis, berwarna kebiru-biruan, dan berdiri tegak. Kelas atau kw 2 dicirikan dengan ukuran daun lebih lebar dan daunnya agak rebah.


Syarat Tumbuh Anthurium Daun

Untuk dapat tumbuh optimal, anthurium menghendaki suasana dan lingkungan yang tidak jauh beda dengan tempat asalnya. Kondisi lingkungan yang perlu diperhatikan dalam merawat anthurium adalah derajat keasaman, temperatur (suhu), kelembapan, dan cahaya (tingkat paparan cahaya matahari).


Derajat Keasaman

Anthurium umumnya tumbuh di daerah yang memiliki keasaman mendekati netral, yaitu antara 5,5-7. Tanaman ini dapat tumbuh optimal pada saat derajat keasaman mencapai 7. Kondisi ini dapat memaksimalkan kerja akar sehingga kemampuannya menyerap hara semakin sempurna.


Temperatur

Temperatur atau suhu lingkungan ideal bagi anthurium berkisar antara 18-310 C. Penampilan daun akan lebih mengilap apabila perbedaan suhu siang dan malam tidak terlalu mencolok. Kondisi ini akan mendorong terbentuknya klorofil sehingga warna daun menjadi lebih hijau.


Kelembapan

Kelembapan adalah jumlah kandungan air di udara pada suatu lokasi. Sesuai habitat tumbuhnya di hutan tropis basah, anthurium akan tumbuh optimal di daerah dengan kelembapan tinggi, yakni 60-80%. Kandungan air di udara yang terlalu sedikit dapat menyebabkan daun cepat layu.


Namun, kelembapan udara yang terlalu tinggi dapat merangsang tumbuhnya jamur dan bakteri pada media tanam. Penyiraman pada tanah atau semprotan air yang lembut pada tanaman dapat meningkatkan kadar kelembapan.


Cahaya

Tanaman anthurium tidak tahan panas matahari langsung. Kelebihan sinar matahari dapat menyebabkan daun terbakar, sedangkan kekurangan cahaya menyebabkan daun menjadi pucat atau lemas.


Di habitat aslinya, tanaman ini mendapat paparan matahari hanya 30-35%. Jika ditanam di daerah dataran rendah, sebaiknya menggunakan jaring peneduh berukuran 65%, sedangkan di dataran sedang menggunakan jaring peneduh 55%.


Pemeliharaan Anthurium Daun

Anthurium lebih pantas ditanam sebagai tanaman hias dalam pot dibandingkan ditanam di tanah atau di kebun. Sebagai tanaman pot, anthurium mempunyai keuntungan, yaitu dapat dipindahkan sesuai keinginan. Agar tanaman dapat tumbuh dengan baik, perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini.


Media tanam

Anthurium termasuk jenis tanaman yang suka media yang subur, agak lembap tetapi tidak sampai basah, dan sangat poros (berpori, mudah dilalui air). Sesuai dengan habitat aslinya di hutan, media dasar tanaman anthurium adalah pakis.


Cacahan pakis dapat digunakan secara tunggal atau ditambah bahan lain, seperti pupuk kandang, kompos kaliandra, kompos daun bambu, atau cocopeat (limbah kelapa sawit). Komposisi media yang digunakan dapat berbeda-beda untuk setiap petani atau nutrisi, tergantung pada iklim setempat.


Guna menghindari kelebihan air siraman, masukkan styrofoam, arang kayu, atau pecahan genteng ke dasar pot baru kemudian isi dengan media tanam.


Penyiraman

Penyiraman dilakukan rutin minimal sekali sehari, bahkan jika cuaca panas dapat dilakukan dua kali sehari. Waktu penyiraman yang paling ideal adalah saat pagi hari sebelum pukul 09.00 dan sore hari pada pukul 17.00. Setiap kali menyiram, pastikan kelebihan air siraman mengalir dari lubang di dasar pot.


Penyiraman anthurium dapat menggunakan selang, sprayer, atau gembor. Aliran air jangan terlalu besar agar media tanam tidak terkikis. Selain diarahkan ke media tanam, penyiraman juga diarahkan ke daun agar daun selalu terlihat bersih, segar, dan terjaga kelembapannya.


Penyiraman sebaiknya menggunakan air yang bersih, tidak tercemar bahan kimia. Selain air bersih, dapat juga digunakan air bekas cucian ikan, daging, atau beras untuk membantu mempercantik penampilan anthurium.


Pemangkasan (Penyiangan)

Secara alamiah seiring dengan pertambahan usia, daun anthurium akan menguning dan akhirnya kering. Daun yang mulai menguning sebaiknya segera dipotong menggunakan pisau yang tajam.


Munculnya bunga anthurium dapat menguntungkan, tetapi dapat pula merugikan. Menguntungkan karena dari satu bunga akan dihasilkan puluhan bahkan ratusan bibit.


Merugikan karena pertumbuhan tanaman, terutama daun, akan terhambat mengingat bunga merupakan bagian tanaman yang membutuhkan hara cukup banyak untuk perkembangannya. Jika bunga tidak difungsikan sebagai tanaman indukan, sebaiknya segera dipotong agar tidak mengganggu pertumbuhan daun.


Pemupukan

Pemupukan penting agar anthurium cukup mendapatkan suplai hara. Pupuk dasar anthurium adalah pupuk majemuk (NPK) yang penyediaannya lambat (slow riliaze), diberikan 2-3 bulan sekali dengan dosis sesuai anjuran dan besarnya tanaman.


Pupuk ini diberikan dengan cara disemprotkan pada daun atau disebar di sekitar tanaman. Selain itu, sebaiknya diberikan juga pupuk kandang atau humus, minimum setahun sekali. Tanaman juga perlu diberi pupuk daun yang diberikan setiap 1-2 minggu sekali.


Repotting

Penggantian pot (repotting) sekaligus medianya dilakukan kalau pot sudah tidak mampu menampung pertumbuhan akar. Biasanya penggantian pot dilakukan setahun sekali.


Lakukan penggantian pot dengan hati-hati. Tanaman dikeluarkan dengan cara menggoyang halus pot agar tercipta ‘retakan’ antara media tanam dengan pot. Setelah itu, posisi tanaman dijungkirbalikkan, lalu secara perlahan tarik potnya. Akar yang terlalu rimbun dikurangi dengan cara dipotong.


Sementara itu, siapkan pot berukuran lebih besar, berikut media tanamnya. Masukkan tanaman ke dalam pot yang baru. Kemudian, tambahkan media tanam baru hingga pot nyaris penuh (4-5 cm dari bibir pot). Setelah itu, tanaman disiram dan diletakkan di tempat teduh.


Perbanyakan Anthurium Daun

Tanaman anthurium dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif adalah pengembangan tanaman melalui biji. Perbanyakan vegetatif adalah pengembangan tanaman melalui tanaman induk, misalnya dengan cara setek dan pemisahan anakan.


Perbanyakan dengan Biji

Biji dapat diambil dari buah yang sudah masak (tua). Untuk mengeluarkan biji, kulit buah yang berwarna merah dikupas. Agar daging buah yang berlendir ikut terbuang, lakukan perendaman dengan air bersih selama 24 jam.


Kemudian, biji dicuci sampai bersih dari lendir. Selanjutnya, biji dikeringkan, dan siap disemai. Perbanyakan dengan biji memerlukan waktu relatif lama.


Setek

Ada dua cara setek, yaitu setek (potong) pucuk dan setek batang (bonggol). Setek pucuk batang dipandang lebih cepat dan efisien. Dari pemotongan pucuk diharapkan tumbuh tunas baru pada ruas di bawah pucuk yang dipotong.


Setelah dipotong, luka pada batang diolesi fungisida untuk menghindari serangan bakteri pembusuk batang. Kemudian, tanam dalam media dan letakkan di tempat teduh.


Setek Batang (Bonggol)

Setek bonggol dilakukan dengan memotong-motong bonggol tanaman. Pemotongan dilakukan pada setiap mata tunas bonggol sekitar 6-7 cm. Kemudian, rendam dalam larutan fungisida selama 20 menit, lalu tiriskan.


Setelah itu benamkan potongan bonggol tadi dalam pot kecil yang telah diisi media tanam. Selanjutnya, letakkan di bawah naungan, lalu siram dengan air bersih.


Pemisahan Anakan

Dalam keadaan tertentu, misalnya luka di pangkal batang, dapat muncul anakan yang merupakan individu lengkap.

Anakan yang memenuhi syarat untuk dipisah adalah yang sudah memiliki 2-3 helai daun dan sudah memiliki akar sendiri. Pemisahan anakan dilakukan dengan memotong pangkal batangnya menggunakan pisau yang steril.


Usahakan agar akar terbawa dan tidak putus saat diangkat. Olesi pangkal batang yang terluka dengan fungisida. Selanjutnya, tanam di media tanam baru, lalu letakkan di tempat teduh dan siram secara teratur.


Pengendalian Hama dan Penyakit

Tanaman anthurium tidak terbebas dari berbagai gangguan pertumbuhan, baik serangan hama, penyakit, maupun gangguan fisiologis. Gangguan tersebut akan menghambat pertumbuhan tanaman.


Ulat

Hama yang paling sering menyerang daun adalah ulat daun. Ulat kecil berwarna hijau sering menggerogoti daun hingga berlubang-lubang. Ulat menyerang tanaman pada malam hari.


Dalam tingkat yang ringan ulat dapat dikendalikan dengan cara mengambilnya dan memusnahkannya. Namun, jika serangannya berat dan luas, dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida.


Belalang

Serangan belalang mengakibatkan daun berlubang. Tanda serangan belalang, yaitu pinggiran daun rusak dengan luka bergerigi tidak beraturan.


Jika serangan ringan, pengendalian dapat dilakukan dengan menangkap dan memusnahkannya. Namun, jika belalang sudah terlalu banyak, perlu dilakukan penyemprotan dengan pestisida.


Siput

Hama ini memakan daun, terutama daun yang masih muda. Siput menyerang tanaman pada malam hari. Pengendalian dapat dilakukan dengan mengambilnya dan membuangnya.


Jika serangan cukup banyak, pengendaliannya dilakukan dengan menyebar umpan beracun di tempat yang diperkirakan dilalui siput.


Kutu Daun

Kutu daun menyerang daun muda atau pucuk daun dan helaian mahkota bunga. Hama ini menyerang tanaman dengan mengisap cairan sel yang mengakibatkan bagian tanaman itu menjadi kering dan berwarna kecokelatan. Hama ini dikendalikan dengan penyemprotan insektisida.


Busuk Batang dan Daun

Penyakit ini diakibatkan oleh bakteri. Batang dan daun yang diserang akan berwarna kecokelatan dan membusuk. Pemicunya adalah drainase (saluran air) dalam media kurang lancar dan air menggenang. Pencegahan dapat dilakukan dengan pengaturan penyiraman.


Jika tidak berhasil, lakukan penyemprotan fungisida sesuai dosis. Serangan bakteri sering juga diakibatkan oleh sisa air siraman yang tidak kunjung mengering di permukaan daun. Daun yang terserang bakteri dianjurkan untuk dipotong dan dimusnahkan agar tidak menulari daun lain.


Akar Melunak

Penyebab penyakit ini adalah bakteri. Gejalanya, batang bawah terlihat berair. Lambat laun jaringan batang akan mati. Pencegahannya dilakukan dengan menjaga sterilisasi media tanam dan memperbaiki drainase.


Kerusakan fisiologis

Kerusakan fisiologis pada tanaman disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti sinar matahari, suhu, dan air. Sinar matahari yang berlebihan menyebabkan daun terbakar, kering, dan layu. Air yang berlebihan akan menyebabkan akar, batang, dan daun busuk.


Ringkasan Anthurium

Anthurium adalah tanaman tropis yang dapat tumbuh sepanjang tahun dan mudah beradaptasi di Indonesia. Ia dapat ditanam di halaman, teras, maupun di dalam ruangan.


Di antara begitu banyak spesies, pada dasarnya anthurium terbagi dalam dua kategori besar, yaitu anthurium bunga dan anthurium daun. Di Indonesia, tanaman ini banyak berkembang biak di Pulau Jawa, terutama anthurium daun. Ia lebih pantas ditanam sebagai tanaman hias dalam pot.


Agar dapat tumbuh optimal maka perlu diperhatikan syarat tumbuh, media tanam, penyiraman dan pemangkasan, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit.


Demikian materi dari kami tentang Tips Cara Budidaya Anthurium Di Lahan secara lengkap dan jelas, semoga bermanfaat jangan lupa di share ya sobat Murid.Co.Id